www.cupkasih.cc.cc Setup / Sign in
pelita kasih 's Store
Search by Name
LEMBAGA KEUANGAN MILIK RAKYAT
SPIRITUALITAS DAN BISNIS
Business & Industrial (SPIRITUALITAS BISNIS)

Apakah lembaga rohani boleh bergerak di dunia bisnis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah karena jawabannya sangat tergantung situasi dan tidak bisa dinilai secara rasional dengan jawaban “ya” atau “tidak”. Sitiuasi tidak sama, bisa sangat berbeda dan berubah terus. Lain di paroki Sungailiat dan lain juga di paroki Koba. Masalah menjadi jelas jika disorot dari segi spirtualitas.

Kenyataan
Bisnis, selama ini mempunyai stigma sebuah organisasi profit oriented yang setiap aspek kegiatannya selalu mengutamakan perolehan keuntungan. Apa pun agendanya, dunia bisnis sudah terlanjur sangat identik dengan keuntungan. Jangankan menjalankan Good corporate Govermance (GCG) melakukan sumbangan dan aksi sosial saja, orang awam pasti tetap mengira ada ‘udang di balik batu’; ada maksud untuk mengeruk keuntungan yang lebih dari setiap aksi dunia bisnis. Meskipun banyak perusahan berusaha keras menunjang nilai moral dan sosial dalam aspek kerjanya, tetap saja banyak orang menduga jika aksi perusahan itu hanya sekedar untuk meningkatkan citra dan brand image yang diusungnya.
Para pengusaha atau pebisnis dulu sangat sulit membayangkan bagaimana menggabungkan sebuah kata “spiritualitas” dengan kata “bisnis”. Dua kata ini sangat berseberangan dan klise. Bisnis selalu identik dengan rasionalitas, sesuatu yang memiliki parameter yang jelas dan terukur. Sebaliknya, spiritualitas kerapkali dinilai sebagai sesuatu yang irasional dan nilai kebenarannya pun sangat relitif. Oleh karena itu mengabungkan kedua kata tersebut di atas sangat utopis, mengada-ada, dan tidak rasional. Singkatnya aksi moral dan sosial dalam dunia bisnis apapun bentuknya dipandang hanya akan bermuara pada value of money belaka. Akan tetapi, pada kenyataannya perusahan-perusahaan memang tidak bisa terlepas dari unsur spirtualitas. Pelayanan mereka terhadap konsumen dan hierarki organisasi yang menuntut relasi yang baik dengan orang lain, menciptakan suatu kewajiban untuk menerapkan prinsip spiritualitas. Lagi pula, pada dasarnya setiap relasi manusia membutuhkan nilai-nilai spiritualitas yang kuat. Ini bukan sekadar masalah menaikan citra perusahan atau sustainable perusahan, tetapi lebih kepada makna dalam bekerja. Banyak pekerja mengeluh kurang bermaknanya kehidupan mereka. Mereka bekerja tetapi tidak menemukan sesuatu yang bermakna dan membahagiakan hidup mereka. Mereka bekerja dengan hampa. Inilah pentingnya nilai spiritualitas dalam perusahan. Perusahan tidak lagi dituntut sebagai sebuah perantara antara modal, pekerja, dan keuntungan, tetapi perusahan dituntut untuk memberi makna dan penghargaan tinggi terhadap nilai sosial, moral, dan spiritual terhadap para pekerjanya. Wujud dari penerapan prinsip spiritualitas ini sangat beragam, milai dari GCG, CSR (Corporate social Responsibility), training ESQ, hingga program ziarah dan naik haji bagi para karyawannya.
Nilai spiritualitas semakin terangkat ketika tahun 2006 Muhammad Yunus menerima hadiah nobel perdamaian yang membuat sontak dunia. Siapa Muhammad Yunus itu? Ia bukan seorang politisi, negarawan, atau aktivis perdamian yang vokalmengkampanyekan HAM. Ia hanya seorang guru besar ekonomi dari sebuah Negara miskin yang bernama Bangladesh. Ia berhasil merebut perhatian dunia melalui Bank yang didirikannya pada tahun 1976, Grameen Bank. Tentu saja Bank ini memiliki nilai lebih dari sekedar Bank pada umumnya. Melalui Bank inilah Yunus menyusun pilar-pilar fondasi untuk mewujudkan perdamaian melalui pemberantasan kemiskinan di Bangladesh. Melalui Grameen Bank (yang berarti Bank Desa), kredit puluhan juta dollar perbulan disalurkan. Kredit yang ditujukan kepada kaum margina dan miskin ini, tetah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa. Bank mayoritas nasabahnya adalah kaum bawah ini memiliki modal yang sebahagian besarnya (94%) dipegang oleh kaum papa. Inilah yang menyebabkan Muhammad Yunus menjadi seorang pemenang Nobel Perdamian.
Terinspirasi oleh Grameen Bank, trend spiritualitas berkembang pesat setelah terjadinya skandal financial perusahan-perusahaan raksasa, seperti Emron dan World.com. Perusahan-perusahan itu tidak menghargai nilai-nilai moral manusia dan alam. Walaupun dunia bisnis AS telah dibentengi dengan aturan Good Corporate Govermance, perusahan tetap saja mampu mempecandungi public. Saat ini, para regulator di AS telah menerapkan aturan bisnis yang jauh lebih ketat.
Sikap skeptis dan pesimis terus saja mengemuka, meskipun tema ini telah menjadi bahan kajian para penulis buku. Mungkin kita dengan mudah menemukan buku-buku yang menyinggung masalah spiritualitas dalam perusahaan, antara lain The Corporate Mystic, karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman, Spiritual Quatient karya Danah Johar dan Ian Marshall, The 8tth Habit dari Stephen Covey, dan Megatrend 2010 buah tangan Patricial Aburdena.
Fenomena menarik yang akhir-akhir ini kita saksikan bersama adalah gairah para eksekutif bisnis untuk mengkaji nilai-nilai agama. Tempat-tempat ibadat dipenuhi para eksekutif. Bahkan tidak mengherankan banyak eksekutif menjadi aktivis gerakan-gerakan ritual agama yang sekarang menjadi sebuah trend seperti kharsimatik,komunitas para pengusaha atau pebisnis, Got Aus, dll. Melihat trend tersebut harus dipahami sebagai eksprsi kerinduan untuk mengintegrasikan nilai-nilai etis/moral dan spiritualitas kedalam lingkungan bisnis yang cendrung secular, kering dan materalistik.
Sebahagian orang justeru menilai fenomena tersebut semacam topeng-terbukti masih maraknya korupsi,manipulasi, dan kolusi di negeri ini-memang tidak seluruhnya dapat ditepis. Pertumbuhan tempat ibadat yang ekuivalen dengan pertumbuhan aktivitas korupsi, tak pelak menjadi ironi tersendiri di tengah keinginan untuk memperbaiki moral warga negara. Terlepas dari hukum paradoksal tersebut, gairah para eksekutif patut dihargai.

Spiritualitas
Prof. Roy Sembel berpendapat “anggapan bahwa bisnis dan spiritualitas tidak bisa dipadukan ternyata tidak benar, hanya sebuah mitos”. Selanjutnya ia juga berpendapat bahwa banyak pebisnis sukses yang mencapai tingkatan tertinggi dalam persepsi orang bisnis, ternyata tidak bahagia. Mereka justeru merasakan kesepian, kehampaan, dan kesedihan. Dan rupanya selama ini hidup mereka dihabiskan untuk mengejar hal yang keliru. Mereka mengfokuskan hanya pada dunia bisnis dan mengabaikan sisi spiritualitas.
Walaupun demikian, ada banyak rohaniwan yang melulu berpikir dari sisi spiritualitas dan tidak mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari, khususnya dunia bisnis. Akibatnya berita yang dibawa dianggap sebagai cerita dongeng yang tidak membawa solusi nyata bagi masalah yang dihadapi para pebisnis dalam kehidupan sehari-hari. Bisnis dan spiritualitas ibarat dua pulau yang terpisah, atau bagai air dan minyak yang tidak tidak bisa disatukan. Paulus Bambang dalam bukunya “Membongkar tembok penyekat antara dunia bisnis dan spiritualitas” menawarkan jembatan.
Trend spiritualitas yang disebarluaskan di Indonesia oleh perusahan multinasional seperti Unilever, Panasonic, dan IBM. Ciri utama dari perusahan yang menerapkan prinsip spiritualitas antara lain: Pertama, mempunyai tata kelola yang baik (GCG), kedua, program-program sosial (CSR), ketiga, andanya moralitas dan penerapan prinsip caring-loving dalam setiap lini kegiatannya. Kita dapat mengambil contoh ketika terjadi krisis ekonomi, banyak perusahan mengalami pailit tetapi perusahan yang menerapkan prinsip spiritualitas yang tetap bertahan. Misalnya Astra merupakan salah satu perusahan yang menerapkan prinsip spiritualitas yang agak jauh lebih maju. Pirinsip spiritualitas ini disebut dengan Catur Dharma yang mengandung nilai:
Pertama, memberikan yang bermanfaat kepada Negara dan bangsa, kedua, memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen, ketuga, saling menghargai dan membina kerja sama, dan keempat, mencapai tujuan yang terbaik.
Vipen Kapur, Power Trough People and principles not puppets and prejudices, (Kekuasaan melalui manusia dan prinsip bukan Boneka dan Prasangka) menuliskan lima prinsip perusahan Sinar Mas Motto yakni quality people, quality principles, quality planning, quality products, quality profits.
Perusahan Toyota, salah satu perusahan pembuat mobil unggul di dunia, menarpkan falsafah bisnisnya yaitu, menciptakan keseimbangan, harmonis, antara sasaran dan kebutuhan stakeholder yang saling bertentangan. Tujuan budaya Toyota adalah memberikan prospek terbaik kepada orang dan masyarakat, juga peduli terhadap lingkungan.

BELAJAR DARI PEBISNIS URSULIN
Para pebisnis memulai rencana dan strateginya dengan memikirkan berapa uang yang mereka dapatkan. Namun lembaga-lembaga nonprofit tidak memikirkan atau membuat basis strategisnya pada uang. Mereka tidak menempatkan uang pada pusat perencanaannya. Mereka yang bekerja di sector nonprofit akan memulai dengan bertanya: “performance of their mission”.
Biara atau komunitas Ursulin yang bergerak dibidang pendidikan sudah 500 tahun tetap berkiprah dalam lembaga pendidikan. Pertanyaannya bagaimana manajemen pada lembaga-lembaga pendidikan ursulin sehingga mampu bertahan sekian tahun?
Pertama: Penekanan pada mutu. Yang terkait didalamnya adalah iklim intelektualitas-fasilitas yang mendukung dan kedisiplinan.Kedua, bagi para pendidik sangat ditekankan perlunya on going formation yaitu di luar jam mengajar diberi kesempatan mengasah potensi para guru. Misalnya melalui pertemuan/seminar para guru bidang studi atau menggali dari sumber-sumber lain.
Usulan yang bisa di perhatikan dari lembaga-lembaga pendidikan Ursulin adalah nama pelindung sekolah perlu dicari atau dipikirkan serius agar menjadi spirit dasar dalam mengelola sekolah.
Dedikasi guru kalau dilihat sebagai hoby maka yang terjadi adalah pekerjaan guru untuk mencari uang. Kata yang ekstrim: dari pada ganggur mendingan menjadi guru sejarah. Karena di luar sulit mencari lapangan pekerjaan.


Felix Atawollo, Pr
 
PRODAK PINJAMAN(11)  -  POLJAK CU PELITA KASIH(2)  -  MODUL PEMBERDAYAAN EKONOMI KERAKYATAN(1)  -  SIMBAH(1)  -  PICTURE(1)
Copyright � .cc.cc Inc. All Rights Reserved.
Use of this service constitutes your acceptance of the CC.CC Store's privacy policy.
Address : Kenanga No. 1 Koba- Bangka Tengah, Koba-Indonesia,Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia, 33181 | Telephone : 0718 61781 | Fax : 0718 61397 | Email : | Instant messenger : www. (Yahoo!) | Name : pelita kasih | Company : Credit Union Pelita Kasih