Business & Industrial > Businesses & Websites for Sale (CU PELITA KASIH KOBA)
[Enter Post Title Here]
Bab 1
SOLUSI DAN KONSEP LENGKAP
A. CREDIT UNION SEBUAH SOLUSI
Konon menurut cerita, orang Jepang adalah satu bangsa yang sangat khawatir akan hari esok (masa depan). Oleh karenanya menyisihkan penghasilan untuk ditabungkan adalah prioritas utama, membuat Jepang menjadi negara paling kuat dalam hal menabung, di samping hal-hal lain sebagaimana ”negara Jepang” yang kita ketahui sebagai ”negara raksasa ekonomi dan kaya” tetapi sangat sederhana dalam pola hidup sehari-hari.
Apa yang dibuat agar kita dapat menyamai orang Jepang (negara Jepang)? Langkah awal ”mungkin” kita perlu belajar ”khawatir” terlebih dahulu. Setelah kita mampu ”khawatir” akan masa depan, barulah kita bertanya: Apa yang sebaiknya dibuat? Tuan Robert T. Kiyosaki (pengarang buku terkenal : Rich Dad, Poor Dad, seorang Warga Negara Amerika Keturunan Jepang) menurut informasi juga sering ditanya orang, jalan apa yang Anda sarankan?
Jawaban dari pertanyaan di atas dan solusi dari ke ”khawatir”an akan masa depan salah satunya adalah Credit Union. Sebagai sebuah jawaban dan solusi mungkin masalahnya hanya terletak pada : “Tak Kenal Maka Tak Cinta”.
Dalam rangka merayakan HUT RI Ke-58, 17 Agustus 2003 ada begitu banyak ungkapan tentang Credit Union dalam Majalah Kalimantan Review Edisi Agustus 2003. Di antaranya: Mau Merdeka, Credit Union Besar Karena Istemewa; Masuklah Credit Union Agar Tidak Tertindas; Rakyat Merdeka Bersama Credit Union; Citra Allah, Motivasi Masuk Credit Union, dan seterusnya. Inilah ungkapan dari para Insan Credit Union yang pasti latar belakangnya adalah: ” Karena Sudah Kenal Dan Cinta.” Akhirnya dengan penuh keyakinan berpendapat Credit Union adalah sebuah jalan untuk merdeka dalam bidang finansial.
B. PENGERTIAN
Credit berasal dari bahasa Latin, yaitu credere yang artinya percaya. Union/Unus berarti kumpulan. Sehingga Credit Union berarti sekumpulan orang-orang yang saling percaya, dalam suatu ikatan pemersatu yang bersepakat untuk menabungkan uang mereka, sehingga menciptakan modal bersama, untuk dipinjamkan di antara sesama mereka, dengan balas jasa/bunga yang layak, untuk tujuan produktif dan kesejahteraan.
Sekumpulan orang yang saling percaya: Pria dan wanita yang merasa senasib dan sepenanggungan yang akan menjadi pemilik, pelaksana, pengawas, dan pengguna jasa (nasabah).
Dalam satu ikatan pemersatu: Diikat dan dipersatukan oleh suatu kepentingan bersama dalam suata ruang lingkup lingkungan masyarakat, baik lingkungan kerja, tempat tinggal maupun lingkungan perkumpulan/profesi.
Bersepakat menabungkan uang mereka: Tanpa paksaan untuk menyisihkan sebagian dari penghasilannya sebagai salah satu wujud saling percaya dan saling membantu melalui pemanfaatan tabungan untuk kemajuan bersama.
Sehingga menciptakan modal bersama: Membentuk modal bersama sebagai modal sendiri dari masing-masing anggota yang di peroleh dari simpanan poko, simpanan wajib, dan simpanan lainnya. Apabila dianggap perlu dapat mencari modal lain sebagai pertambahan modal yaitu berupa hutang, modal penyertaan, dan hiba/donasi (dalam jaringan Credit Union).
Dipijamkan di antara sesama mereka: Pinjaman hanya diberikan di antara sesama anggota dengan jaminan watak si peminjam dan kelayakan usahanya.
Dengan bunga yang layak: Bunga pinjaman dapat memberikan balas jasa simpanan sesuai
pasar dan mampu membiayai operasional organisasi.
Tujuan produktif dan kesejahteraan: Kebutuhan usaha peningkatan penghasilan menjadi prioritas dalam memberikan pinjaman, kemudian baru diikuti kebutuhan kesejahteraan lainnya.
Kesimpulan: Credit Union adalah lembaga/organisasi ekonomi yang berwatak sosial.
Inilah pengertian yang menjadi konsep dasar dari Credit Union.
C. CREDIT UNION DI INDONESIA BERNAMA “KOPERASI KREDIT”
Judul di atas dua nama yang berkonotasi sangat berbeda, walaupun yang dimaksud adalah sama. Sebagai mana pengertian diatas, Credit Union bermakna kumpulan orang yang saling percaya untuk sejahtera melalui konsep menabung terlebih dahulu, namun kenyataannya Koperasi Kredit dapat bermakna dan di terjemah Koperasi Yang Memberi Kredit. Bandingkan Dengan Kartu Kredit, Rumah Kredit, atau Kredit Barang Elekrtonik, Kendaraan Kredit, dan seterusnya. Memang ada peribahasa mengatakan “Apalah artinya sebuah nama”, namun fakta membuktikan bahwa menjadi anggota Credit Union sebagaian besar karena harapan untuk meminjam. Bukan berpijak pada konsep dasar menabung untuk menciptakan Asset agar “anak cucu dan saya” besok akan sejahtera. Lebih menggelikan lagi ada yang datang dari tempat cukup jauh dan rela berhujan ke Kantor Credit Union hanya untuk bertanya: apa di sini tempat meminjam uang yang gampang? Kata tetangga, lembaga ini fungsi utamanya memberi kredit, mudah dan dapat berlipat-lipat dari uang saya, masukkan uang di Credit Union Rp. 5 juta. SIAPA BILANG?
D. KONSEP LENGKAP
Sebagai sebuah lembaga keuangan, sama dengan lembaga keuangan lainnya, Credit Union telah memiliki alat/instrumen organisasi yang sangat lengkap, kalau kita tidak mau mengatakan sempurna. Tersedia perangkat manajemen dalam arti teknis, yang dalam operasionalnya dilaksanakan masing-masing oleh Pengurus dan Manajemen (staf).
Walau sebagai lembaga Koperasi dengan prinsip dari, oleh, dan untuk anggota (swadaya), Credit Union memiliki Jaringan Kerja atau Struktur Organisasi dengan lembaga yang berada di atasnya. Bila kita gambarkan dari bawah yaitu : ANGGOTA (Perorangan) – CREDIT UNION – PUSKOPDIT/BK3D (Daerah/Wilayah) – INKOPDIT/BK31 (Negara) – ACCU (Regional/Asia) – WOCCU (Dunia). Untuk Credit Union yang besar masih memiliki jaringan ke bawah yang dikenal dengan nama TP (Tempat Pelayanan/Kantor Cabang) adalah struktur organisasi internal Credit Union Primer.
Jaringan Kerja/Struktur Organisasi inilah yang merupakan kekuatan atau jaminan Credit Union menjadi lembaga keuangan yang kuat dan membedakannya dengan lembaga keuangan/koperasi lainnya.
Perlu dijelaskan bahwa nama PUSKOPDIT (Pusat Koperasi Kredit) dan INKOPDIT (Induk Koperasi Kredit) adalah nama lain dari Lembaga/BK3D dan BK3I di Indonesia yang menandakan telah memiliki Badan Hukum. Walau menurut pengamat/praktisi Credit Union: Munaldus (Wakil Kerua BK3D Kalimantan/Ketua Dewan Pimpinan Credit Union Keling Kumang), BK3D – PUSKOPDIT, BK3I – INKOPDIT sesungguhnya dua hal sangat berbeda, dimana nama/terminologi BK3I, BK3D sama dengan CUCO (Credit Union Coordination Office) adalah Gerakan.
Dalam kaitan ini nampaknya perlu kajian mendalam dan terus – menerus, peninjauan ulang oleh insan – insan Credit Union tentang semua aspek baik konsep maupun penerapan konsep Credit Union dilapangan, khususnya di Indonesia agar tidak bertentangan apalagi menyimpang dari roh Credit Union yang benar.
Sebagai contoh dalam beberapa tulisan atau literatur untuk menemukan Nilai – Nilai Credit Union, Prinsip – Prinsip Credit Union selama menulis tulisan ini harus berputar – putar dulu. Yang dikira prinsip – prinsip Credit Union ternyata prinsip – prinsip Koperasi, karena dalam pembahasan prinsip – prinsip Credit Union judul utama pembahasan adalah prinsip – prinsip Koperasi dan lampiran utamanya justru adalah prinsip – prinsip Koperasi. Dalam menterjemah kenyataan dilapangan dengan berbagai tulisan dan literatur harus pelan – pelan dan jeli menyebutkan dan membedakannya, dua hal serupa tetapi tidak sama.
Hal ini sangat penting karena Nilai dan Prinsip inilah yang menjadi Filosofi dari Credit Union. Lebih penting lagi karena salah menterjemah, penerapan tidak konsisten, apalagi diubah, maka dapat dipastikan buah dari cita – cita Gerakan Credit Union akan jauh dari harapan.
Sebagai sebuah organisasi yang memiliki Jaringan Kerja/Struktur Organisasi, ada konsep, sistem dan aturan main yang memberi pedoman baik Garis Kekuasaan dan Garis Pelayanan masing – masing lembaga. Pada bagian ini tidak diuraikan secara menyeluruh tetapi lebih kepada keinginan untuk memberi keyakinan bahwa segala sesuatunya telah tersedia dan lengkap, tinggal manusia yang mengelolanya.
Untuk menambah pengetahuan kita tentang Credit Union selain yang telah dipaparkan di atas, berikut akan disampaikan beberpa hal berkaitan dengan Koperasi dan Credit Union, khususnya pengertian, nilai – nilai dan prinsip – prinsip dari kedua lembaga tersebut.
1. Koperasi
a. Pengertian (Definisi) Koperasi :
Koperasi adalah kumpulan otonom dari orang – orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya mereka yang sama melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan diawasi secara demokratis.
b. Nilai – Nilai Koperasi
Koperasi berlandaskan nilai – nilai :
- menolong diri sendiri
- bertanggung jawab kepada diri sendiri
- demokrasi
- kesetaraan
- keadilan
- solidaritas
- swadaya
c. Prinsip – Prinsip Koperasi :
Ada 7 (tujuh) Prinsip – Prinsip Koperasi berdasarkan Statement ICA : ”International Cooperative Alliance” September 1995. Prinsip – prinsip koperasi adalah pedoman bagi koperasi – koperasi dalam melaksanakan nilai – nilai koperasi dalam praktek, terdiri dari :
- Keanggotaan yang sukarela dan terbuka
- Pengawasan demokratis oleh anggota
- Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi
- Otonomi dan kemandiriaan (Independence)
- Pendidikan, pelatihan dan penerangan
- Kerjasama antar koperasi
- Kepedulian terhadap masyarakat
2. Credit Union
a. Pengertian (defenisi) Credit Union
Seperti telah dijelaskan pada Bab lain diatas, Credit Union berasal dari bahasa Latin, yaitu credere yang artinya percaya. Union/Unus berarti kumpulan. Sehingga Credit Union berarti sekumpulan orang – orang yang saling percaya, dalam suatu ikatan pemersatu yang bersepakat untuk menabungkan uang mereka, sehingga menciptakan modal bersama, untuk dipinjamkan di antara sesama mereka, dengan bunga yang layak, untuk tujuan produktif dan kesejahteraan.
b. Nilai – Nilai Credit Union :
Berikut ini akan dikemukakan nilai – nilai Credit Union, yaitu :
1. menolong diri sendiri
2. bertanggungjawab kepada diri sendiri
3. demokrasi
4. kesetaraan
5. keadilan
6. swadaya
7. solidaritas
Perlu disampaikan bahwa penjelasan per item tidak seluruhnya dijelaskan disini tetapi dapat dilihat/dibanding pada bagian/Bab lain yang membahas hal yang sama. Sebagai contoh nilai (1) menolong diri sendiri dan nilai (2) bertanggungjawab kepada diri sendiri, dapat dilihat pada Bab Dua : Credit Union Apa Yang Menarik?
Selanjutnya nilai (3) demokrasi dapat dilihat/dibanding dengan penjelasan pada Prinsip – Prinsip Credit Union (a. Struktur Demokratis point 2. dikontrol secara demokratis).
Sedangkan nilai (6) swadaya, (7) solidaritas disamping juga ada dibahas dalam Prinsip – Prinsip Credit Union, secara khusus dibahas dalam Tiga Pilar Credit Union.
Nilai (4) kesetaraan, nilai (5) keadilan dapat dijelaskan sebagai berikut :
Nilai (4) kesetaraan. Dapat dipahami dengan istilah lain seperti : kemitrasejajaran pria dan wanita dalam Credit Union untuk memberi makna : (4.1) bagaimana Credit Union dapat memberi manfaat optimal kepada anggotanya baik pria maupun wanita, (4.2) bagaimana anggota wanita dan pria mempunyai hak yang sama dalam pengambilan keputusan dan Credit Union, (4.3) anggota mau menyadari dan bersedia menerapkan kemitrasejajaran pria dan wanita dalam Credit Union agar wanita dapat memain peran lebih besar dibanding saat ini.
Nilai (5) keadilan. Keadilan berarti sifat (perbuatan,perlakuan) yang adil. Keadilan dapat berartikondisi yang adil, baik perbuatan atau perlakuan yang diterima dalam hubungannya dengan hak dan kewajiban sebagai anggota. Semua anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Misalnya semua anggota akan mendapat deviden yang sama berdasarkan kreiteria atau kontribusi tabungan yang disimpan di Credit Union.
Nilai keadilan merupakan jaminan bahwa berbagai kebijakan tidak akan mengakibatkan keadaan menjadi lebih buruk dari sebelumnya, baik dalam arti ekonomi maupun tanggungjawab sosial.
c. Prinsip – prinsip Credit Union
Ada 9 Prinsip Penyelenggaraan Credit Union yang dirumuskan dan disepakati dalam Forum Credit Union Internasional I yang diselenggarakan oleh WOCCU pada tanggal 24 Agustus 1984. Prinsip – prinsip Credit Union tersebut, yaitu :
a. Struktur Demokratis
1. Keanggotaan terbuka dan sukarela
Keanggotaan dalam Credit Union bersifat terbuka dan sukarela bagi semua yang berada dalam ikatan pemersatu/wilayah yang bisa mendayagunakan pelayanannya dan mau menerima kewajiban yang mestinya dipenuhi. Dengan kata lain menjadi anggota Credit Union tidak dipaksakan oleh siapa pun dan terbuka bagi semua orang yang bersedia menerima tanggungjawab keanggotaannya tanpa membedakan jenis kelamin, ras, politik maupun agama.
2. Kontrol secara demokratis
Anggota Credit Union mendambakan hak – hak yang sama untuk bersuara (satu anggota satu suara) dan berperan serta di dalam pengambilan keputusan-keputusan Credit Union tanpa dipengaruhi jumlah tabungan, saham, deposito maupun volume usahanya. Hak suara dalam Credit Union menunjang organisasi bisa secara proposional atau representatif sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Credut Union adalah otonom sejauh dalam batas hukum dan peraturan yang menyatakan”Credit Union” sebagai suatu koperasi yang memberikan pelayanan dan di kontrol oleh para anggotanya. Kepengurusan Credit Union yang di pilih adalah para RELAWAN yang seharusnya tidak menerima gaji. Namun demikian, Credit Union bisa mengeluarkan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh para pejabat berkaitan dengan tugasnya.
3. Tidak diskriminatif
Credit Union tidak membeda-bedakan dalam suku, kebangsaan jenis kelamin, agama dan politik.
b. Pelayanan Anggota
1. Pelayanan kepada anggota
Pelayanan Credit Union ditujukan untuk meningkatkan ekonomi perikehidupan sosial dari seluruh anggotanya. Dalam pengelolaannya harus mandiri dengan mempertahankan asas: dari, oleh dan untuk anggota.
2. Distribusi kepada Anggota
Mendorong sikap hemat dengan cara menabung dan penyediaan pinjaman serta pelayanan lainnya, tingkat suku bunga yang layak diberikan atas tabungan-saham dan deposito, atas dasar kemampuan Credit Union hasil lebih (surplus) yang diperoleh dari usaha Credit Union setelah penyisihan tingkat cadangan yang sepadan dan pembayaran deviden atas modal saham akan menjadi milik dan didayagunakan secara bermanfaat kepada seluruh anggota tanpa merugikan siapapun diantara anggota. Surplus tersebut bisa dibagikan diantara anggota sebanding transaksinya dengan Credit Union sebagai bunga atau jasa pinjaman atau secara langsung untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang minta oleh para anggota. Dengan kata lain balas jasa yang diberikan kepada anggota harus sebanding dengan besarnya modal dimilikinya dan partisipasinya dalam mengembangkan usaha koperasi tersebut.
3. Membangun Stabilitas Keuangan
Perhatian utama Credit Union adalah untuk membangun kekuatan finansial, termasuk pembentukan cadangan yang memadai dan kontrol internal yang memastikan pelayanan yang berkesinambungan tiada akhir bagi para anggotanya.
c. Tujuan Sosial
1. Pendidikan yang Terus Menerus.
Credit Union secara aktif mengembangkan pendidikan bagi para anggota, pengurus, dan karyawan dan masyarakat umum tentang ekonomi, sosial, demokrasi dan prinsip-prinsip kerja sama saling membantu dalam Credit Union. Promosi tentang hemat dan penggunaan pinjaman secara bijak serta pendidikan tentang hak-hak dan kewajiban anggota adalah mendasar sekali bagi keseimbangan watak sosial dan ekonomi Credit Union dalam memenuhi kebutuhan para anggota.
2. Kerjasama antar Koperasi
Untuk mewujudkan ketahanan filosofinya dan menggalang keberadaan koperasi, Credit Union secara aktif bekerja sama dengan Credit Union lain, Koperasi lain dan organisasinya pada tingkat lokal, nasional dan internasional dalam rangka memberikan pelayanan terbaik bagi anggota dan masyarakatnya. Dengan kata lain dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota, koperasi perlu memperkuat jaringan kerjasama baik lokal, nasional maupun internasional.
3. Tanggung Jawab Sosial
Melanjutkan cita-cita dan keyakinan para perintis koperasi, maka Credit Union menjunjung pembangunan manusia dan hubungan sosialnya. Visi keadilan sosialnya mencakup luas pada sisi keanggotaan secara perorangan dan kepada masyarakat lebih luas dimana mereka berkarya dan bertempat tinggal. Cita-cita Credit Union adalah memberikan pelayanan kepada semua yang membutuhkan dan dapat mendayagunakannya. Setiap orang, baik dia seorang anggota ataupun anggota potensial yang adalah bagian dari kepentingan dan perhatian Credit Union. Keputusan-keputusan hendaknya diambil dengan penuh pertimbangan bagi kepentingan masyarakat yang lebih luas di dalam Credit Union dan para anggotanya berada dan hendaknya mempertimbangkan aspek pengembangan masyarakat, sehingga keberadaannya ikut membangun tatanan kehidupan perekonomian masyarakat.
d. Pilar Credit Union
Dalam usaha mewujudkan, mengangkat dan meningkatkan harkat hidup anggota dan masyarakat sekitarnya, maka Credit Union memiliki 3 (tiga) pilar yang disebut Tiga Pilar Credit Union yaitu :
1. Pendidikan
Kegiatan utama Credit Union dalam meningkatkan harkat hidup manusia yaitu melalui pendidikan anggotanya tujuannya agar anggota dapat mengerti peranserta, hak dan kewajiban sebagai anggota Credit Union, agar lebih rasional dan bijaksana dalam mengatur keuangan rumah tangga, usaha, mengetahui dan memahami laporan keuangan serta perkembangan Credit Union. Dalam Credit Union kita mengenal motto ”dimulai dengan pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dikontrol oleh pendidikan dan bergantung kepada pendidikan”. Pengetahuan dan ketrampilan anggota Credit Union baik pria maupun wanita sangat dibutuhkan dalam pengembangan Credit Union.
2. Setia Kawan (Solidaritas)
Credit Union tidak sekedar menghimpun simpanan dan memberi kredit (pinjaman) dari dan kepada anggotanya saja, namun yang paling diutamakan adalah bagaimana setiap anggota Credit Union memperhatikan kepentingan kelompok dari pada kepentingan diri sendiri.
Sebagai anggota Credit Union selalu memotivasi diri agar tidak hanya memikirkan diri sendiri melainkan kepentingan bersama dan harus saling melayani. Setiap insan dan penggerak Credit Union perlu memahami dan menghayati arti dari kerjasama atau setiakawanan (solidaritas).
Bentuk nyata dari berupa contoh dan keteladanan anggota misalnya setiap anggota Credit Union harus selalu ingat akan kewajibannya, antara lain menyimpan atau menabung dengan teratur dan bila meminjam mengangsur pinjamannya dengan tertib sehingga anggota-anggota lain mendapat kesempatan memperoleh bantuan (pinjaman) bila membutuhkan. Anggota Credit Union lebih senang mamberi (menabung) daripada diberi (meminjam), pandangan ini mirip dengan motto : Anda Sulit Saya Bantu, Saya Sulit Anda Bantu! Manabur dulu baru bisa menuai, menabung terlebih dahulu baru memikir meminjam, bantulah terlebih dahulu orang lain sebelum Anda mengharapkan bantuan.
3. Swadaya
Credit Union selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya sendiri. Agar hal dapat terwujud, penggerak dan anggota Credit Union harus berusaha agar Credit Union-nya semakin besar dan sehat. Kata orang: ”BIG IS BETTER” sebaliknya bukan ”SMALL IS BEAUTIFUL”. Credit Union kecil sulit untuk berbuat besar bahkan sangat riskan terhadap gejolak atau kondisi tertentu.
Untuk mendukung usaha ini, maka partisipasi anggota baik pria maupun wanita sangat diharapkan. Caranya antara lain adalah dengan menabung di Credit Union secara teratur dan sebanyak-banyaknya dan hindari agar tidak menabung ke lembaga lain. Mengapa? Karena Credit Union merupakan milik dari anggota itu sendiri, sedangkan lembaga keuangan lain, pemiliknya hanya segelintir orang, penabung hanyalah sebagai nasabah.
Meningkatkan keswadayaan berarti mengangkat harkat hidup manusia karena tidak harus meminta-minta kepada orang lain. Bila secara riil Credit Union memerlukan dana, maka ada aturan main yang harus ditaati. Untuk mewujudkan keswadayaan ini diperlukan Pilar lain yaitu kependidikan dan solidaritas guna meningkatkan pengetahuan, ketrampilan meningkatkan persatuan dan kerjasama antar anggota Credit Union.
e. Jaringan (Struktur Organisasi) Credit Union
Berbicara tentang struktur organisasi Credit Union kita mengenal : GARIS KEKUASAAN : kekuasaan tertinggi berada pada rapat anggota yang melimpahkan kuasanya kepada Pengurus untuk melakukan perencanaan, pendelegasian tugas-tugas operasional kepada staf, dan menjaga aturan main.
WOCCU (World Council Of Credit Unions) : Lembaga Credit Union Tingkat Dunia. Kedudukan di Medison, Wissconsin, USA.
ACCU (Asean Confederation of Credit Unions) : Lembaga Credit Union tingkat Asia. Kedudukan di Bangkok Thailand.
BK3I (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia) : Lembaga Kredit Union tingkat Nasional. Sekarang bernama INKOPDIT.
BK3-D (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah) : Lembaga Credit Union Tingkat Daerah.
Credit Union : Lembaga Credit Union Tingkat Primer/Lokal.
Anggota Credit Union : Anggota Perorangan.
f. Pelayanan
GARIS PELAYANAN : Pelayanan Keuangan dan Non-Keuangan pada dasarnya berasal dari atas yaitu (untuk Indonesia) : Dari BK3 Daerah yang melangsungkannya kepada Credit Union-Credit Union Primer anggotanya dan akhirnya oleh Credit Union ditujukan kepada para anggota perorangan yang membutuhkannya.
GARIS PELAYANAN :
1. Pelayanan Silang Pinjam
2. Pelayanan Pendidikan / pelatihan
3. Pelayanan Audit dan monitoring
4. Pelayanan Konsultasi Manajemen
5. Pelayanan Daperma / Jalinan
6. Badan Hukum
7. Suplai / Publikasi
Bab 2
CREDIT UNION:
APA YANG MENARIK?
A. MENOLONG DIRI SENDIRI
Melalui Credit Union saya yakin mampu menolong diri sendiri. Menjadi anggota Credit Union bahkan menjadi aktivisnya bukan karena ingin memberi contoh, bukan karena trend dan keren, bukan hanya karena prihatin melihat bubuhan sulit sekolah, bukan pula sebuah proyek untuk mensejahterakan “masyarakat Indonesia”. Sulit diterima dengan akal sehat, bergabung menjadi anggota Credit Union bila barang tersebut tidak meyakinkan akan mampu menolong diri sendiri. Dengan kata lain sangat bodohlah kita mengerjakan sesuatu yang tidak diyakini dan tidak mampu menolong diri sendiri.
B. BERTANGGUNG JAWAB KEPADA DIRI SENDIRI
Bukan hal baru bahkan sudah biasa, begitu banyak anggota dan calon anggota yang bertanya: Apa jaminan lembaga ini bagi kami di masa yang akan datang? Apakah nasibnya tidak sama dengan lima koperasi di mana saya menjadi anggota bahkan pengurusnya? Apa tidak terjadi lagi plesetan yang sering kami dengar: Kuperasi, Ketua Untung Dulu, Koperasi Pedati (ada sponsor baru jalan), Koperasi Merpati (Koperasi dibuat untuk menangkap fasilitas, uang dan bantuan)? Kita menuntut bahkan mengajak orang lain meminta agar Kepala Kampung, Camat, Bupati, Gubernur bertanggungjawab terhadap pendidikan anak saya, bertanggungjawab terhadap jalan di depan rumah yang becek dan berlumpur, bertanggungjawab terhadap panen yang gagal karena tidak diberi pupuk (gratis), dan seterusnya. Jawabnya: syah-syah saja kalau orang lain tidak memperhatikan dan bertanggungjawab terhadap masa depan serta nasib saya. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa saya tidak memperhatikan dan bertanggungjawab terhadap diri saya sendiri.
Tidak ada yang bodoh mau pun menjamin masa depan Anda. Kesejahteraan “Financial” dan perbaikan nasib sepenuhnya di tangan Anda. Masa depan Anda sepenuhnya dalam tangan Anda dan ditentukan “SAAT INI” bukan besok. Lakukan “SEKARANG JUGA”.
Ada pertanyaan: dua hal tersebut di atas merupakan bagian dari Nilai-Nilai Credit Union. Apakah nilai-nilai tidak penting, mengapa tidak masuk disini? Bukan tidak penting! Namun kedua hal tersebut di ataslah yang mudah dimengerti dan dirasakan, mudah diingat dan sangat realistis. Masih ada Nilai-Nilai Credit Union yang lain yaitu: Demokrasi, Keadilan, Kesetaraan, Solidaritas dan Swadaya. Apa dan bagaimana Demokrasi, Keadilan, Kesetaraan, Solidaritas dan Swadaya memang mudah diucapkan namun sangat abstrak bahkan cenderung subyektif.
Sulit membuktikan, namun dapat dirasakan. Sebagai contoh pengalaman selama ”berenang” dalam gerakan Credit Union, mempraktekkan nilai-nilai di atas ada hal lain yang sulit untuk diungkap, namun benar-benar terasa lain. Mengelola sebuah organisasi/lembaga di mana ada suasana kebersamaan, cita-cita dan semangat yang sama, persaudaraan, pengorbanan, cinta kasih, semangat memberi dulu dari pada menerima, harapan, ada peta finansial yang jelas ke depan, benar-benar memberikan ”kebahagiaan” tersendiri. Teman-teman mengatakannya dengan ”ROHnya sudah masuk”. Kalau itu sudah terjadi maka banyak ungkapan misalnya Rasul-Rasul Credit Union, Gila CU, Profesi rata-rata dibalik: pekerjaan pokok saya di Credit Union, pekerjaan sampingan saya sebagai..........(misalnya: seorang dokter, guru, PNS dll).
C. SEJARAH MEMBUKTIKAN
Credit Union berdiri di pertengahan abad 19, di mana dengan semangat dermawan dan rasa bertanggungjawab seorang walikota Flammerfield di Jerman: Friedrich Wilhelm Raiffesien untuk mengatasi kemiskinan dan musibah kelaparan dengan membagi uang dan roti ternyata TIDAK MAMPU mengubah nasib rakyatnya.
Mempelajari sejarah ternyata kesimpulan yang diperoleh adalah: NASIB SI MISKIN HANYA DAPAT DI UBAH OLEH SI MISKIN ITU SENDIRI. Tidak oleh Walikota,tidak oleh uang dan roti yang dibagi secara gratis, tidak oleh orang lain.
Caranya ternyata adalah:
a. Menabung (dari apa yang ada pada Anda) – Azas Swadaya.
b. Azas Dari, Oleh dan Untuk si Miskin.
c. Azas Setia Kawan dan Persaudaraan
Jawabannya : CREDIT UNION !
Pertanyaan selanjutnya adalah: Masihkah Kita Mau Merubah Nasib Dengan Mengharapkan Bantuan Uang Dan Pembagian Roti?
Bab 3
BUATLAH UANG BEKERJA UNTUK ANDA
A. HUKUM TENTANG UANG
Ada hukum tentang uang yang mengatakan: ”Jangan bekerja untuk uang dan membuat hidup Anda dikendalikan oleh uang. Buatlah uang bekerja untuk Anda, bukan Anda bekerja untuk uang”. Hukum tentang uang ini identik dengan pendapat Robert T. Kiyosaki: Bekerja untuk uang dinamakan Keamanan Financial, sedangkan uang bekerja untuk Anda dinamakan Kebebasan Financial. Kebebasan Financial inilah yang setara dengan konsep dan target Credit Union.
Umumnya kita dikondisikan untuk hanya berada pada Keamanan Financial. Seorang anak kecil bila ditanya kalau sudah besar cita-citanya mau jadi apa? Jawaban pasti yang akan kita dengar adalah mau jadi dokter, pilot, polisi, tentara, dstnya. Sebaliknya kalau orang tua yang berbicara, kata-kata biasa dan yang pasti diucapkan adalah: sekolah baik-baik supaya nanti kalau besar jadi dokter, pilot, polisi, tentera, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur yang pada dasarnya semua mengarahkan kelak anak ini berada pada posisi Keamanan Financial atau dengan kata lain menjadi buruh kalau kita tidak ingin menggunakan istilah kuli. Bekerja untuk uang sebenarnya memiliki resiko.
Bila suatu saat tidak dapat bekerja misalnya sakit, dipecat, di PHK uang pun tidak datang. Kita jarang berpikir ke arah sana.
Sangat langka bahkan mungkin tidak pernah ada nasihat dari orang tua, guru untuk anak-anaknya agar sekolah baik-baik supaya nanti jadi Investor, Bisnis/Pengusaha Besar, jadi orang kaya dan mengarahkan anak-anak tidak harus menjadi pegawai (buruh) supaya sarapan pagi di Samarinda, makan siang di Singapura, makan malam di Amsterdam, bermalam di Paris karena Nanda nanti tidak perlu bekerja untuk uang, tetapi uang yang bekerja untuk Nanda. Ini hanya salah satu contoh saja apa yang dikatakan dengan Kebebasan Financial.
B. KEMBALIKAN BUDAYA LELUHUR,”MENANAM” DAN BERPIKIR JAUH KE
DEPAN
”Saya menanam pohon durian ini untuk anak-cucu saya”, inilah kata-kata yang sangat biasa diucapkan oleh Kakek-Nenek kita. Di zaman serba ”mie instant” ini, hampir tidak ada lagi yang berpikir seperti mereka. Sabar dan berpikir panjang, jauh ke depan. Kita hanya berpikir yang penting hari ini, besok cari lagi. Untuk apa menanam, kapan dia berbuah. Menabung hari ini dengan usia 48 tahun, 35 tahun lagi tidak sempat menikmatinya, sudah mati. Pendidikan anak, itu kewajiban sekolah, guru, pemerintah. Ada program beasiswa, SPP gratis. Halaman rumah yang becek, jalan yang rusak tunggu proyek pemerintah. Masa depan anak-cucu, yakin mereka ada rezekinya sendiri-sendiri menurut garis tangan masing-masing. Uang mana yang mau ditabung.
Padahal kondisi riil dapat rezeki seratus ribu rupiah tak cukup, satu juta tak cukup, lima juta tak cukup, setelah jual sarang walet delapan puluh juta pun tak cukup bahkan masih menyisakan utang. Pesta konsumtif, hura-hura, hiburan tak sehat , judi, kalau dikatakan budaya pasti banyak yang menolak. Ini namanya Penyakit Sosial.
C. UNTUK SIAPA SAYA MENABUNG ?
Ini pertanyaan kunci yang dapat membuat pemikiran, tindakan, perilaku menabung itu bervariasi. Kalau jawabannya ”hanya untuk saya” maka akan ada begitu banyak argumentasi: Nantilah kalau ada uang banyak. Menabung sedikit kapan bisa dinikmati. Ya kalau umur saya panjang. Besok-besok kalau cicilan TV saya sudah selesai. Apa yang mau ditabung dengan pengasilan saya seperti ini. Masih banyak benar pengeluaran, dan seterusnya. Kendala utamanya seperti telah diungkap di atas adalah kita terbiasa dengan serba ”instant”, hanya hari ini. Perlu diungkapkan bahwa fakta membuktikan TIDAK ADA HUBUNGAN YANG BERARTI ANTARA PENDAPATAN DAN JUMLAH TABUNGAN MASYARAKAT.
Tetapi kalau jawabannya ”saya terharu ingat Kakek-Nenek” yang berpikir jauh ke depan dengan mewariskan pohon durian, kebun rotan, kebun kayu kapur yang saya saksikan saat ini dan nikmati saat ini, maka PIKIRAN SAYA TERHADAP MENABUNG ADALAH UNTUK SEBUAH MASA DEPAN DAN KETURUNAN SAYA.
Bahwa suatu saat saya sempat menikmatinya itu adalah nomor dua.
Seorang teman aktivis mengatakan : ”SAYA KEDUA-DUANYA, SAYA NIKMATI HASIL KERINGAT SAYA DAN SAYA PERSIAPKAN MASA DEPAN KETURUNAN SAYA”. Silahkan. Pandangan ini sangat realistis.
”Saya menanam pohon durian ini untuk Anak-Cucu Saya” kata Leluhur kita. Mengapa kata-kata ini diulang lagi? Karena hati-hati. Logikanya kita semua dapat menghitung, mungkin tak sampai 10 tahun lagi, kondisi yang seharusnya kita kritisi dan mulai kita tata akan mulai berbalik.
Kayu yang terus ditebang mulai habis, rotan ,damar, gaharu, tengkawang dan kekayaan hutan lain juga akan ikut habis.Yang ada dalam tanah, tambang batu bara, emas, pasir, minyak dan gas alam, bahkan tanah, kampung dan hutan sekitarnya telah dijual. Burung walet tidak pernah dibiarkan bertelur dan berkembang biak, sarangnya diambil terus, Mungkin suatu saat karena kondisi ini mereka akan pindah ke ”negeri asalnya” ke mana tidak ada yang tahu? Ikan juga diperlakukan sama. Dialiri strum, diracun dengan tuba sehingga akan habis musnah induk, anak sampai telornya.
Belum terlambat untuk merancang masa depan, berpikir jauh ke depan, sabar dan salah satu cara yang paling mudah adalah mulai menyisihkan paling kurang 10 dari pendapatan Anda untuk ditabung hari ini di Credit Union. Siap?
Bab 4
MEMAHAMI KONSEP CREDIT UNION
Keraguan, perasaan sangsi, sikap lihat-lihat dulu, kurang antusias, apalagi tidak mau tahu, pada dasarnya akibat dari kurangnya pemahaman terhadap konsep yang ditawar melalui Credit Union. Alasan terbanyak memang akibat trauma dengan lembaga yang mirip, dibumbui dengan tebalnya rasa saling tidak percaya.
Hampir setiap bagian penulisan ini mengungkapkan apa yang menarik dalam Credit Union. Mungkin terlalu fanatik para aktivis Credit Union yang telah memahami konsepnya akan mengatakan bahwa dalam kondisi ekonomi masyarakat saat ini solusi paling riil adalah Credit Union.
A. Menabung
Hampir semua uraian juga menyinggung tentang menabung. Kata orang pekerjaan paling sulit adalah menabung. Apalagi akibat kondisi ekonomi dan keuangan saat ini memang memiliki argumentasi yang sangat masuk akal, apa yang mau ditabung. Pemikiran dasar terletak pada ”perasaan” kalau ada kelebihan uang, saya akan menabung dan karena ”perasaan” selalu tidak ada kelebihan uang, maka tidak pernah ada yang ditabung. Padahal kata tuan Robert T. Kiyosaki rezeki yang ada dalam tangan Anda tergantung pada apa yang ada dalam pikiran (perasaan) anda. Kondisi riil keuangan untuk menabung memang selalu tidak terwujud karena pandangan terhadap konsep tabungan juga sudah salah.
Konsep umum tentang tabungan di seluruh dunia adalah :
Tabungan = Penghasilan – Kebutuhan.
Dalam teori ilmu ekonomi (Makro Ekonomi) ada konsep/rumus sederhana mirip yaitu :
S (Saving) = Y (Income) – C (Consumption)
Rumus di atas telah menjadi pemahaman umum tentang tabungan. Nampaknya menyebabkan hal yang sama yaitu tidak pernah ada angka penghasilan yang mampu menghasilkan tabungan karena kebutuhan manusia memang tidak ada batasnya. Rumus diatas juga berakibat terhadap pandangan bahwa “Tabungan dan Kebutuhan” adalah dua hal yang berbeda, sebatas hubungan sebab akibat. Karena penghasilan kecil maka tidak ada yang ditabung. Tetapi sebuah keluarga mengatakan walau penghasilan kami sudah naik tiga kali lipat setelah Otonomi Daerah juga tidak dapat menabung karena pengeluaran juga bertambah. Kondisi lain, sebuah keluarga miskin selalu punya uang untuk membeli rokok dalam satu bulan sampai Rp. 300.000,- lebih (2 bungkus/hari @ Rp. 5.000,- x 30 hari), tetapi menabung misalnya hanya Rp. 10.000,- untuk anak-isteri-cucu tercinta mereka selalu tidak mampu, tidak ada uang. Alasannya sangat masuk akal, rokok adalah kebutuhan, untuk menabung nanti kalau ada lebih. Ini berarti tabungan belum menjadi kebutuhan. Kalau ini yang terjadi maka kondisi ekonomi sebuah keluarga berapa pun besar tambahan penghasilan akan tetap saja seperti sebelumnya. Kebutuhan uang untuk pendidikan anak, kesehatan dan kebutuhan lainnya akan tetap bermasalah. Dengan kata lain kemarin sama hari ini akan sama saja dengan besok. Padahal semua orang bercita-cita hari ini lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini.
Dalam kegiatan motivasi atau Pendidikan Dasar di Credit Union pandangan, konsep dan rumus di atas diubah (ditantang) dengan pemikiran bahwa :
• Masa depan akan berubah apabila kita mulai merubahnya mulai hari ini, bukan besok.
• Untuk mencapai sebuah kondisi (sejahtera) diperlukan konsep (peta jalan) yang jelas, riil dan mampu dibuat oleh siapapun, prospek tabungan (pensiun).
• Perlu perubahan pandangan terhadap : penghasilan, tabungan dan kebutuhan dengan merubah konsep bahwa tabungan dijadikan kebutuhan utama bila ingin sejahtera, tabungan identik dengan masa depan, kebutuhan menabung lebih dari kebutuhan merokok (minimal disamakan).
• Fakta membuktikan bahwa ternyata tidak ada hubungan antara penghasilan (gaji) dengan besarnya tabungan. Seorang akademisi dan peneliti dari sebuah Perguruan Tinggi sangat kaget mendengar pernyataan ini. Ini fakta yang tidak memerlukan penelitian. Berapa besar Anda menabung ternyata tidak tergantung penghasilan, tetapi tergantung Anda.
• Pada dasarnya pekerjaan riil yang pasti mampu dibuat oleh siapa pun dengan mengabaikan dulu besar kecilnya tabungan, adalah menabung.
Melalui pandangan dan rumus ini maka setiap keluarga (orang) akan mampu dan memiliki tabungan berapapun kecilnya penghasilan. Dalam jangka panjang akan menjadi harapan yang dapat diukur. (lihat lampiran 1, menabung hanya Rp. 100.000,- per bulan selama 35 tahun menjadi Rp. 1,2 milyar). Solusi yang mampu dibuat dan riil adalah menabung.
B. Bila Anda Perlu Uang Jangan Pakai Uang Sendiri, Tetapi Pinjam
Bagi yang tidak mengerti konsep Credit Union dan tidak memiliki peta masa depan yang jelas, akan mengatakan ini pekerjaan orang bodoh. Punya tabungan Rp. 2 juta kalau perlu pinjam Rp. 2 juta, kalau punya tabungan Rp. 10 juta, bila perlu pinjam juga Rp. 10 juta atau pinjam dibawah tabungan yang kita kiliki atau sesuai kebutuhan/kemampuan untuk mencicilnya.
Bagi anggota Credit Union justru ini pekerjaan sangat kreatif dan direkomendasikan. Yakinlah bahwa Credit Union tidak akan menawarkan sesuatu yang merugikan, apalagi pekerjaan bodoh!
Argumentasi paling sederhana mengapa menarik dan direkomendasikan adalah : tabungan anda di Credit Union diberi deviden (bunga) sebesar 15% per tahun, sedangkan Anda membayar bunga pinjaman sebesar 2% menurun adalah setara dengan 13% per tahun. Ini artinya meminjam uang sendiri di Credit Union untung 2% per tahun. Tidak ada pekerjaan bodoh di sini. Pertanyaan berikutnya kalau begitu Credit Union rugi 2%. Jawabannya adalah tidak, karena lembaga Credit Union berhadapan dengan banyak anggota maka riil penghasilan lembaga adalah tetap 2% x 12 bulan = 24% per-tahun.
Dengan kata lain untuk anggota secara perorangan tetap menguntungkan dan secara kelembagaan juga tetap menguntungkan sebagaimana halnya dana Credit Union pada umumnya.
Contoh nyata lain kita akan lihat perlakuan dua orang yang berbeda antara anggota Credit Union dan bukan anggota.
Bila seseorang bukan anggota Credit Union memiliki uang Rp. 10.000.000,- dan akan membeli sebuah sepeda motor dengan harga juga Rp. 10.000.000,- maka perlakuan yang biasa adalah langsung ke dealer, beli dan bayar tunai. Dia akan mengatakan untuk apa membuat pusing diri sendiri dengan utang.
Namun bila hal yang sama dihadapi oleh seseorang anggota Credit Union dan mengert konsep Credit Union maka langkah yang diambil berbeda. “Bila Anda perlu jangan pakai uang sendiri, tetapi pinjam”. Langkah yang diambil adalah uang yang sama akan disimpan dulu di Credit Union, baru dipinjam kembali misalnya diangsur 5 tahun, dengan uang yang sama ia membayar sepeda motor tetap tunai. Apa bedanya ?
Bapak pertama setelah lima tahun kemudian hanya memiliki asset/harta sepeda motor yang nilainya tentu sudah turun misalnya 5 juta rupiah. Nilai asset/hartanya berarti 5 juta rupiah.
Bapak kedua seorang anggota Credit Union lima tahun kemudian akan memiliki asset yang terdiri dari : (1) Nilai sepeda motor (sama dengan Bapak pertama) Rp. 5 juta ditambah (2) Uang Rp. 10 juta yang tetap berada di Credit Unit, dengan deviden 15% pertahun, lima tahun kemudian akan menjadi Rp. 20 juta. Bapak kedua memiliki nilai asset/harta sebesar Rp. 25 juta, sedangkan Bapak pertama hanya memiliki sepeda motor yang nilainya telah turun menjadi Rp. 5 juta dan akan terus turun.
Langkah yang diambil oleh Bapak kedua di atas bertujuan untuk mengarahkan apa yang dimiliki saat ini kepada usaha memiliki sejumlah asset yang membuat dia dan keluarganya sejahtera di masa yang akan datang. Tabungan dan pinjaman adalah dua hal berbeda.
Banyak yang unik bila kita telah mengerti benar dengan konsep Credit Union. Ini hanya ada di Credit Union dan tidak terdapat dalam lembaga keuangan manapun. Tabungan merupakan asset yang akan terus bekerja bagi pemiliknya selama 24 jam sehari, tidak mengenal siang malam, Hari minggu dan Hari Besar, sedangkan pinjaman adalah salah satu bagian yang berdiri sendiri dengan tujuan dan caranya sendiri.
C. Menabung Tanpa Membawa Uang
Ini juga cukup menarik di Credit Union. Gagasan ini bersumber dari fenomena menarik yang terjadi dalam masyarakat. Sangat sulit, tidak punya uang, tak mampu menabung, namun untuk mambayar hutang berapapun besarnya selalu mampu.
Rata-rata barang berharga seperti televisi, kulkas, kompor gas, kursi tamu hanya mampu dimiliki melalui proses kredit dan untuk mencicilnya tak mengalami kesulitan. Seorang Pegawai Negeri dengan gaji Rp. 1,5 juta mampu mamiliki mobil dengan cicilan Rp. 6 juta per bulan. Nampaknya untuk dapat memiliki harta atau barang (asset) perlu proses memaksa diri.
Konsep atau fenomena ini diangkat dalam Credit Union untuk memiliki uang berapapun besarnya. Sesuai dengan kemauan (bukan kemampuan) seperti halnya pada saat kita ingin memiliki barang. Namanya “pinjam uang untuk disimpan”. Biasa dikenal dengan nama Pinjaman Progresif atau Pinjaman Kapitalisasi. Proses inipun sama dimaksudkan untuk memaksa diri memiliki uang melalui pinjaman (hutang). Filosofinya kita tak dapat menabung secara teratur, namun mampu membayar Union mampu memiliki tabungan seperti halnya memiliki barang. Anggota mampu memiliki berapa saja yang dikehendaki. Ada anggota yang mampu memiliki tabungan ratusan juta dalam kurun waktu dua tahun melalui cara ini.
D. Konsep Lembo Sama Dengan Membuat Warisan
Kata “Lembo” (Belanda) sangat dikenal dalam masyarakat Suku Dayak Kalimantan Timur. Secara harafiah lembo berarti tanaman atau sejumlah tanaman dan tanah di mana tanaman itu berada dan sekitarnya yang dipersiapkan dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi untuk tujuan kesejahteraan generasi berikutnya. Dalam kalangan Suku Dayak dikenal dengan berbagai nama. Lepuun (Dayak Kayan), Pulung Bua (Daundaye), Munaan (Dayak Tonyoi), Simpukng (Dayak Benuaq dan Dayak Bentian), Ledoung (Dayak Modang), Lepuun (Dayak Auheng), Lekak Lepu’un (Dayak Kenyah), Balaian (Dayak Agabag), di Kalimantan Barat dikenal dengan nama temawang (tembawang).
Pada bagian lain telah diungkapkan bahwa dengan kondisi ekonomi keluarga seperti sekarang ini, maka terdapat kecenderungan akan terus terjerat dengan kesulitan yang sama secara terus menerus pula. Dengan kata lain sebuah generasi akan mewariskan kondisi dan kesulitan yang sama kepada generasi selanjutnya. Kemiskinan, tak mampu menyekolah anak, tidak memiliki harta/kekayaan, rumah menyewa terus, dan kesulitan lainnya. Petani memang tak punya pensiun. Seorang pegawai negeri misalnya, di mana rata-rata jaminan pensiunlah yang dijadikan alasan memilih menjadi pegawai negeri hanya akan mewariskan pensiunnya sampai pada level tertentu (isteri atau suami, anak yang menjadi tanggungan atau belum dewasa).
Mungkin kita jarang menganalisa bahwa Nenek-Moyang kita ternyata sudah memiliki konsep pensiun abadi melalui “Konsep Lembo”. Hanya sayangnya lembo yang susah payah disiapkan untuk kita, dipelihara, malah ditebang, pohonnya dijual atau lahannya dirusak untuk membangun perumahan dan kepentingan lainnya. Kini mulai langka dan hanya tinggal nama.
Credit Union mengangkat budaya ini dengan membuat lembo dalam bentuk uang. Kita menanam dan berkebun uang, kemudian mewariskannya. Caranya sama dengan membuat lembo. Perlu ditanam, dipelihara, dipupuk, perlu proses waktu, sabar, bertahap, sedikit demi sedikit dan tujuannya yang terutama adalah membuat warisan dan menciptakan pensiun abadi.
Bayangkan menabung hanya Rp. 100 ribu per bulan (Rp. 1,2 juta per tahun) hanya dalam kurun waktu 35 tahun akan menjadi Rp. 1,2 milyar. Kalau dipelihara terus dengan cara yang sama, maka 35 tahun berikutnya akan mencapai jumlah Rp. 166 milyar! 35 tahun berikutnya lagi menjadi Rp. 22,2 trilyun! 35 tahun berikutnya Rp. 2,961 trilyun! Inilah Lembo Abadi.
E. Anda Menuai Apa Yang Anda Tabur
Kebalikan dari ungkapan di atas adalah jangan mengharapkan sesuatu besok apabila anda tak berbuat sesuatu hari ini. Berapa pun besarnya seorang petani dapat menabung, namanya dia sudah mempunyai tabungan. Bandingkan dengan kita hanya mempermasalahkan hal-hal yang tidak prinsip, takut, trauma, saling tidak percaya dan akhirnya tak pernah memulai. Ujung-ujungnya apa yang kita dapatkan, tidak ada.
Kini Credit Union sedang membuktikannya. Diprediksi dalam lima tahun mendatang akan ada perbedaan besar antara masyarakat yang menjadi anggota Credit Union, menerapkan konsep dengan tekun, dengan masyarakat yang tidak menjadi anggota.
Dengan tabungan yang dimiliki kini, dapat diprediksi harapan akan sebuah jumlah di masa depan. Kuncinya pelajari konsep secara mendalam, praktekkan, buktikan, jaga, pelihara, manfaatkan lembaga Credit Union dengan baik. Kita yakin tidak ada yang ingin merusak lembaga yang membuat dia dan keturunannya akan sejahtera?
Menarik juga diungkapkan hasil penelitian dari Credit Union Pancur Kasih Pontianak selama 20 tahun berdiri, terhadap “oknum” anggotanya yang “mangkir”, tidak melaksanakan kewajiban terutama setelah meminjam, ingin merusak lembaga. Hasil penelitian 99% dari anggotanya yang berperilaku ingin merusak lembaga dengan berbagai cara, rata-rata berakhir dengan “Tidak Sejahtera” seperti : kehidupan rumah tangga berantakan, tambah susah, melarat dan setaranya. Mungkin ini namanya : Orang Menuai Apa Yang Dia Tabur. Taburlah kebaikan maka anda akan menuai kebaikan. Menabunglah hari ini, maka Anda dan keturunan Anda akan menikmati hasilnya, sekarang dan selama-lamanya.
F. Bukan Koperasi Simpan-Pinjam, Tetapi Sarana Menciptakan Kekayaan (Asset)
Bila pikiran kita hanya tertuju pada Simpan-Pinjam saja maka Credit Union tidak berarti apa-apa. Oleh karenanya para insan Credit Union enggan menggunakan nama Koperasi Simpan Pinjam. Koperasi Kredit pun rasanya kurang tepat. Yang tepat hanya Credit Union (baca pengertian Credit Union). Dalam bab terdahulu dikatakan Credit Union adalah solusi untuk kaya dan memiliki konsep lengkap untuk tujuan itu.
Kita kembali ke pengertian bahwa untuk sejahtera uang adalah sekedar alat/gagasan, bukan tujuan. Kita jangan dipermainkan uang tetapi kita yang harus memainkan uang. Contoh sederhana misalnya seseorang telah mampu menabung sebesar Rp. 3 juta di Credit Union.
Pertama ia meminjam uang yang sama untuk membeli kulkas produksi. Dalam jumlah waktu tertentu sambil menyelesaikan pinjaman membeli kulkas (kulkas membayar kulkas) ia terus menambah tabungannya misalnya Rp. 2 juta. Setelah selesai pinjaman, kini ia memiliki kulkas dan tabungan sebesar Rp. 5 juta.
Kedua dari tabungan yang sama ia meminjam Rp. 5 juta untuk mendirikan sebuah warung dan peralatan serta modalnya. Dalam jumlah waktu tertentu sambil melunasi pinjaman warungnya (kulkas + warung membayar warung) ia juga menambah tabungannya, misalnya Rp. 5 juta. Selesai pinjaman warung, kini ia memiliki kulkas + warung dan tabungan sudah menjadi Rp. 10 juta.
Ketiga ia pun kembali meminjam Rp. 10 juta untuk membeli ketinting (perahu bermotor) umumnya hanya ada di Kalimantan Timur dan dengan cara yang sama sambil menyelesaikan pinjaman ketinting (kulkas + warung + ketinting membayar ketinting) ia terus menambah tabungannya terutama dari hasil kulkas, warung dan ketinting. Setelah selesai kini ia memiliki kulkas + Warung + ketinting dan tabungan misalnya Rp. 25 juta.
Keempat, selanjutnya ia ingin memiliki sepeda motor, dari tabungan
G Konsep Rumah Panjang
Dalam masyarakat Suku Dayak, Rumah Panjang identik dengan budaya dan konsep. Tidak jelas mulai kapan, mengapa dan untuk apa rumah panjang mulai “dilarang dan dianjurkan untuk dihilangkan”. Konon di Kalimantan Bagian Utara (Malaysia) tiap kampung tetap ada dan digunakan seperti biasa. Saya masih ingat benar suasanarumah panjang. Sebagai contoh kalau ada bunyi sebelah rumah/tetanggamemotong ikan/daging (babi) saya terbiasa (yakin) tak lama pasti ada yang diantar. Biasanya dengan kata-kata : kita bagi sedikit-sedikit, dapat tak seberapa (soq artinya nyantap), atau kita diundang untuk “paruq” artinya kita diajak menikmati perolehan berburu, atau karenamendapat ikan banyak dari biasanya. Saya juga masih ingat budaya “mahap” atau gotong royong. Bila ada warga yang membangun rumah, budaya menanam padi “nugal”, menebas, menebang (membuka ladang) atau mengetam padi yang dilaksanakan secara gotong royong yang biasa diistilahkan dengan “plaqdo”. Kalau ada yang sakit atau meninggal “dirasakan bersama oleh warga” dengan bergotong royong mnyumbangkan bantuan dan obat-obatan (ramuan). Inilah Swadaya, Solidaritas, Setiakawan sejati.
Konsep ini dalam Credit Union mirip dengan konsep yang dikenal dengan: “Menolong Diri Sendriri Melalui Kebersamaan.” Konsep bersama-sama ingin sejahtera. Uang orang banyak diikat dan disambung dalam satu wadah/lembaga, bersama-sama diikat dalam jaringan Credit Union se Kalimantan, bahkan dunia menjadi sebuah rumah panjang dengan ikatan yang sama : Swadaya, Solidaritas dan Persaudaraan Sejati. Kehidupan akan lebih bermakna dan orang banyak semakin mampu mengatasi berbagai kesulitan, khususnya kesulitan ekonomi pada saat kita menjadi satu dalam kelompok.
Bukan Tidak Boleh Meminjam
Konsep utama dan terutama adalah menabung. Ibarat kita melangkah, kalau kaki kiri adalah menabung maka kaki kanan adalah meminjam. Jadi jangan khawatir. Bahkan dalam Credit Union dikenal istilah 3 R yaitu : Rajin Menabung, Rajin Meminjam dan Rajin Mengembalikan Pinjaman. Teman-teman aktivis menambah dengan banyak R lainnya, silahkan. Dalam Credit Union dikenal juga istilah : Bila Anda Perlu Uang Jangan Pakai Uang Sendiri Tetapi Pinjam. Mengutip pendapat Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Cash Flow Quadrant ; untuk menuju kebebasan financial (sejahtera) maka harus diciptakan asset selalu lebih besar dari liabilities (hutang) sehingga akan terjadi peningkatan “uang/asset” kita yang terus membesar. Salah satu cara agar asset terus meningkat adalah dengan mempertahankannya (tidak diambil/digunakan tetapi pinjam).
Inilah target Credit Union dimana pada suatu saat tertentu uang kita akan tersedia jauh lebih besar dari rencana investasi dan bisnis kita. Pola meminjam pun selalu diarahkan untuk tujuan produktif, kemudian baru diikuti untuk tujuan kebutuhan kesejahteraan lainnya. Bukan tidak boleh meminjam, tetapi tanamkan dalam pikiran kita bagaimana mempertahankan asset yang sudah ada bahkan harus terus ditambah. Hal ini perlu diungkapkan untuk meluruskan berbagai alasan sebagian besar orang yang belum percaya bahwa uang kita di Credit Union tidak dapat diambil, Credit Union itu buat susah dan banyak ungkapan lain yang menggambarkan orang tersebut belum mengerti konsep Credit Union.
Modal Sosial versus Penyakit Sosial
Agar sebuah Credit Union dapat berkembang dan memberi manfaat kepada anggotanya yang diperlukan tidak hanya uang. Sangat dibutuhkan apa yang biasa disebut dengan Modal Sosial. Apa yang dimaksud dengan modal sosial adalah justru sifat-sifat mulia yang dimiliki dan diwariskan Kakek-Nenek, Nenek Moyang kita yaitu : Kebersamaan, saling percaya, gotong-royong, berpikir jauh ke depan (limbo), cinta Kasih, Solidaritas, Setia Kawan, Swadaya (budaya rumah panjang) dan sifat-sifat mulia lainnya.
Lawan dari modal social adalah Penyakit Sosial atau dikatakan juga musuh Credit Union. Credit Union tidak dapat berkembang pada daerah atau dimana anggotanya mengidap penyakit social dominan. Apa yang dimaksud dengan penyakit social antara lain, judi, mabuk-mabuk (minuman keras, narkoba), berpikir hanya hari ini (instant), kebiasaan berfoya-foya, iri hati, tamak, boros, egois dan sifat-sifat buruk lainnya.
Pemahaman Terhadap Konsep Credit Union Merupakan “Jaminan Credit Union Menjadi Lembaga Abadi”
Kalau seseorang membuat prediksi, peta masa depan (Prospek Tabungan) maka yang ada dalam benaknya adalah sebuah jangka waktu dan panjang ke depan.
Berpikir jauh ke depan dapat pula membuat sebagian orang berpikir lain. Ada yang justru membuat prediksi terbalik. Paling-paling tiga bulan, tak sampai setahun Credit Unionnya akan runtuh. Saya pernah kaget mendengar seorang : tokoh/elite justru malah memasang “Deadline” akan melihat sampai tiga tahun apa yang terjadi dengan “Credit Union” anda. Atau melihat terlalu jauh ke depan juga malah membuahkan analisa “tak ada gunanya karena umur saya sudah tua”, tak sempat, siapa yang menjamin uang saya dan lain-lain.
Tidak salah juga melihat bahwa 20 tahun, 35 tahun lagi adalah sesuatu yang sangat lama. Tetapi kalau kita berpikir ke belang rasanya baru saja berlalu tahun 1980 yang berarti dengan tahun 2003 baru saja berlalu 23 tahun.
Argumentasi yang bermacam-macam muncul pada dasarnya merupakan gambaran bahwa seseorang belum “masak benar” terhadap konsep Credit Union. Atau cara berpikir orang-orang biasa bahkan cara berpikir orang gagal! Sebagaimana telah diungkap pada bagian lain, jawabannya : Saya menabung untuk siapa?
Sekali lagi, itulah Credit Union. Memang berbeda dengan model, konsep dan lembaga keuangan mana pun. Inilah yang paling penting. Mengetahui secara konsep Credit Union. Orang atau anggota yang mengerti dan yakin akan konsep Credit Union pasti tidak akan merusaknya bahkan membela dengan menjaga dan memeliharanya. Inilah jaminan Credit Union akan menjadi lembaga abadi.
Lakukan Sekarang Juga
Secara panjang lebar telah dibahas bahwa tanpa mengubah pandangan, konsep tentang menabung, maka tidak ada yang pernah mengatakan saya siap dan mampu menabung.
Kata-kata yang sering digunakan “nantilah siapa tahu ada rezeki besok” selain berarti menyerah pada “nasib” juga bermakna mendahului “Sang Maha Mengetahui, Sang Pemberi Rezeki yaitu Tuhan”.
Belajar dari pengalaman, nampaknya kita sekali lagi boleh menyakini bahwa yang dapat kita hitung dan akan terjadi besok adalah berapa besar saya menabung hari ini. Mulai dengan apa yang dimiliki saat ini. Berapapun keilnya tabungan yang kita mulai hari ini, akan berbuah di hari esok. Dengan kata lain memulai hari ini pada dasarnya mengurangi kerugian kalau kita mulai besok. Mulai hari ini, memiliki keuntungan disbanding mulai besok. Oleh karenanya jangan menunda, lakukanlah sekarang juga. Pandangan ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Hendri Hartopo dalam bukunya : Save Or Sory (Manbung atau Menyesal !).
Bagaimana kebiasaan menunda tersebut di atas menimbulkan kerugian akan kita simak berikut ini.
Pertama : Bila beberapa lama kemudian Anda baru sadar dan baru merasa siap mulai “Menabung”, Anda akan membayar mahal untuk penundaan tersebut. Nilai dari Telat mengambil keputusan tersebut disebut Biaya Penundaan. Marilah kita lihat ilustrasi bila Anda menunda selama lima tahun?
Kedua : Ternyata kebiasaan menunda dengan bermacam-macam alasan itu adalah Program Kerja Setan.
a. Pak Siap dan Pak Telat
Pak Siap lebih bijaksana dari Pak Telat. Sudah lima tahun berturut-turut Pak Siap menginvestasikan uangnya secara rutin di Credit Union dengan Nilai Saham Rp. 10.000.000,- setiap tahun. Sementara Pak Telat terus menunda dan baru lima tahun kemudian merasa siap. Melihat nilai saham Pak Siap yang sudah berjumlah Rp. 50.000.000,- dan untuk menandingi agar memiliki lebih banyak Pak Telat akan menanam saham secara rutin di lembaga yang sama selama 25 (dua puluh lima) tahun berturut-turut. Bila Pak Siap berhenti menambah sahamnya secara rutin tetapi terus menempatkannya di Credit Union agar terus berkembang, apa yang terjadi antara saham Pak Siap dan Pak Telat? Mari kita lihat faktanya dengan deviden berdasarkan prediksi 15% per tahun sesuai Pola Kebijakan (POLJAK) Credit Union, Pak Siap dengan saham sebesar Rp. 50.000.000,- dengan menabung lebih awal selama 5 tahun pada tahun ke-30 memperoleh Rp. 2.552.449.483,- masih melebihi Pak Telat dengan Simpanan Saham sebesar Rp. 250.000.000,- hasil menabung selama 25 tahun (5 tahun kemudian setelah Pak Siap) memperoleh Rp. 2.447.119.701,-
b. Program Kerja Setan
Bocoran dari Program Kerja (Rahasia) ini diperoleh dalam minggu keempat bulan Februari 2004, waktu dan tempatnya : rahasia. Namun ceritanya begini :
Berdasarkan hasil analisa setan yang membidangi Bagian Riset dan Penelitian bahwa manusia makin lama cenderung makin sedikit yang masuk neraka. Ini pertanda buruk bagi kelangsungan Kerajaan Neraka. Penduduknya akan habis karena tidak ada lagi manusia masuk neraka.
Akhirnya diputuskan setan-setan akan mengadakan Rapat Kerja (RAKER) dalam minggu ketiga dalam bulan menurut kalender neraka.
Setan Kepala membuka sidang dengan berkata : “akhir-akhir ini semua orang masuk surga dan yang masih berada di bumi pun kebanyakan sudah masuk dalam daftar orang-orang yang akan masuk surga. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kelangsungan Kerajaan Neraka dan untuk itu kita harus menemukan jalan, apa langkah-langkah yang harus ditenpuh agar manusia yang masih berada di bumi akhirnya masuk neraka”.
Setan pertama angkat bicara: “Kita keliling dan mengatakan kepada siapa saja bahwa tidak ada Allah”. Tetapi setan kepala berkata : “Anjuran ini tidak berguna, sebab orang yang berakal sehat, berhati bersih dan lurus mengerti bahwa Allah memang ada.”
Setan kedua angkat bicara : “Mari kita sebarkan isu bahwa tidak ada setan. Dari situ setiap penyesatan tidak dianggap dari setan, sehingga orang suci pun bisa menerima”. Setan kepala pun marah dan berkata : “Setiap orang tahu bahwa ada roh jahat, malahan mereka tahu nama-nama kita, bahkan banyak diantara mereka yang menjadi kaki-tangan roh jahat. Melalui kaki-tangan roh jahat manusia lain yang mereka benci.”
Setelah Rapat Kerja hampir tidak menemukan kesepakatan (buntu) diantara para setan yang hadir, akhirnya setan terakhir menganjurkan program sebagai berikut : “Ada satu kata kecil yang dari banyak fakta mempu menangkap banyak orang. Kata itu adalah “besok”. Orang tahu bahwa ada Allah, ada setan dan bahwa untuk sejahtera di masa depan dan mendapatkan kebahagiaan kekal, orang harus berbuat benar dan berbuat baik serta menabung. Tetapi kalau kata “besok” tertanam kuat dalam hati dan pikiran mereka, mereka akan selalu menunda terus “untuk menabung” dan melakukan perbuatan baik dan benar. Mereka akan selalu berkata : “Ya, menabung dan melaksanaka perbuatan baik dan benar itu memang “harus” tetapi “besok dulu”, tidak sempat hari ini, karena kondisi masih belum oke serta banyak alasan lainnya. Lama kelamaan mereka akan menjadi “orang pemalas”, “menunda terus dengan berbagai argumentasi” tidak bergerak untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar itu.
Setelah melalui pembahasan sangat a lot, semua setan setuju dengan gagasan itu dan palu sidangpun diketok menandakan gagasan tersebut ditetapkan manjadi PROGRAM KERJA SETAN.
Demikianlah banyak hal yang baik dan benar, peluang dan menabung serta bergabung menjadi anggota Credit Union tidak bisa berjalan dengan baik karena penyakit “MENUNDA” yang menghinggapi banyak orang, bahkan ada yang dengan gagah membela diri dan berargumentasi membela pendapat : “besok” tersebut.
Ada orang mengatakan bahwa “kesempatan terbaik itu, yang datangnya atau lewat pertama kali, bukan besok.” Kalau kita simak secara mendalam “kesempatan itu diberikan kepada kita, sumbernya datang dari Tuhan.” Maka sebenarnya setiap ada kesempatan (peluang) yang diberikan Tuhan harus langsung kita manfaaatkan, janganlah setiap kali mengatakan “besok” atau “nanti dulu” sebab menunggu “besok,” pertama : merupakan program kerja setan yang mengetahui baik bahwa lama kelamaan kemauan hati akan mati dan tidak bergerak sehingga setiap kesempatan dan peluang perbaikan nasib di masa depan akan dilewatkan terus.
Kedua : mungkin karena setan sudah mengetahui bahwa besok itu memang sudah tidak ada kesempatan lagi bagi manusia.
Hati-hatilah “selalu menunda”. Nampaknya ini Program Kerja Setan.
bab 5
APA KATA MEREKA
TENTANG CREDIT UNION
Apa kata Tokoh dan Insan Credit Union serta Anggota Masyarakat yang telah merasakan manfaat langsung dari bergabung dalam Credit Union yang diungkap dalam berbagai kesempatan dan media, sangat menarik untuk disimak guna menambah keyakinan kita tentang lembaga ini.
1. Mgr. Hieronimus Bumbun, OFM Cap, Uskup Agung Pontianak
Akan lebih baik jika masyarakat masuk CU. Sebab hanya CU yang bisa mendidik orang dalam merencanakan masa depan. Dengan masuk CU, orang bisa belajar menabung, pandai mengelola ekonomi rumah tangga dan bisa menyekolahkan anak. Bahkan beliau pernah membuat Surat Gembala yang menyarankan umat Katolik agar masuk CU karena terbukti mampu meningkatkan ekonomi keluarga.
2. AR. Mecer (Ketua Serikat Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Dayak Pancur Kasih, Pontianak)
Uang bukanlah segala-galanya tetapi bisa dijadikan alat untuk banyak hal. Uang itu hanya gagasan, sebuah ide dan pada dasarnya uang itu tidak riil. Karena uang merupakan gagasan atau ide bisa melayang kemana-mana. Dan kenyataannya, uang memang ada dimana-mana, di tanah, air, batu, rumput bahkan kotoran ternak. Menjadi masalah mengapa kenyataannya mayoritas orang tidak punya uang? Sebenarnya manusia bisa mengerjakan apa saja untuk mendapatkan uang walau hasilnya kecil. Sama halnya untuk menangkap ikan yang berada dimana-mana yang diperlukan adalah alat untuk menangkapnya. Demikian pula halnya dengan uang. Kita tidak menyadari bahwa untuk bisa menangkap dan mendapatkan uang juga diperlukan alat.
Salah satu dari alat itu adalah Credit Union. Selain menjadi alat menangkap dan mendapatkan uang, CU juga menjadi sarana untuk mengendalikan dan mengelola uang dengan baik. Selanjutnya kapan dan apa saja yang diperlukan bisa menggunakan Credit Union.
3. Munaldus (Koordinator Dana Solidaritas Masyarakat Dayak Pancur Kasih)
Keunikan dan keistimewaan Credit Union, jantung CU terletak pada pendidikan yang menyadarkan. Dengan mottonya : CU “dimulai dengan pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dikontrol oleh pendidikan dan bergantung pada pendidikan.” Prinsip ini tidak ditemukan di lembaga keuangan lain dan ini menjadi keistimewaan CU. Melalui CU setiap anggota berjuang agar bebas secara finansial dengan memiliki Sumber Pendapatan Ganda (SPG), yaitu :
a. Memiliki pendapatan dari hasil keringat seperti gaji, upah, keuntungan bisnis, dll. (Uang datang kalau orang bekerja).
b. Memiliki pendapatan dari bunga tabungan atau deviden dari simpanan saham. (Uang bekerja untuk manusia).
c. Memiliki pendapatan dari sector realestate. (Memiliki tanah atau rumah baik untuk disewakan atau dijual lagi setelah harganya meningkat).
Motivasi masuk CU bukan semata-mata untuk pinjam tetapi bagaimana CU menjadi tempat berinvestasi, CU berusaha agar setiap anggota memiliki Simpanan Bagus (bunga/deviden diatas inflasi), bukan Simpanan Jelek (bunga/deviden dibawah inflasi). CU juga mendorong agar anggota memiliki Pinjaman Bagus (untuk usaha produktif) dan bukan untuk Pinjaman Jelek (untuk tujuan konsumtif).
4. P. Florus (Ketua Perkumpulan Pancur Kasih)
Credit Union adalah lembaga keuangan yang berbeda dengan bank. Ada 3 komponen utama yang membedakan CU dan bank.
Pertama : CU lebih mengutamakan manusia (modal social), sedangkan bank hanya mengutamakan uang (modal ekonomi).
Kedua : CU sebagai praksis ekonomi kerakyatan sedangkan bank kapitalisme.
Ketiga : CU sebagai koperasi sejati, sedangkan bank adalah pedagang uang sejati.
Kekuatan CU terletak pada aspek pendidikan dan pelatihan para anggota. Pendidikan yang diutamakan sifatnya adalah penyadaran (terus menerus) dan andragogis. CU mempunyai kekuatan pada aspek teguhnya nilai-nilai dasa yang sebenarnya nilai-nilai dasar manusia. Kelemahan CU berada pada manajemen dan belum menjadi gerakan social yang besar. Filosofi CU menolong diri sendiri melalui kerjasama, solidaritas, saling percaya, pembelajaran dan secara swadaya/mandiri. CU punya prinsip bahwa uang hanya sebagai alat, yang terpenting adalah manusianya. Kalau manusianya sudah tidak memegang teguh nilai dasar kemanusiaannya, maka saat itu juga CU akan hancur atau mati.
5. Valentinus Darus (Pengusaha Bis Valenty di Pontianak)
Awalnya hanya memantau saja. Kemudian ikut Pendidikan Dasar di CU. Yang menambah keyakinan adalah bahwa orang-orang yang menjadi pengurus CU adalah orang-orang yang benar-benar bagus cara kerjanya. Awalnya dengan jumlah tabungan Rp. 1,5 juta meminjam di CU Pancur Kasih sebesar Rp. 4 juta. Kemudian terus aktif menabung dan meminjam sampai sekarang. Anak-anak, istri dan keluarga semua diajak masuk CU. Berawal dari pinjaman 4 juta sekarang bisa memiliki 20 armada bis Valenty. Peraih deviden terbesar kedua tahun 2002 sebesar Rp. 35 juta. Rata-rata pendapatan bisnisnya mencapai Rp. 50 juta per bulan dengan asset usaha selama 6 tahun terakhir mencapai Rp. 3 milyar. Kini bisa meminjam sampai Rp. 500 juta. Katanya “mengapa saya pinjami dan memperoleh sejumlah itu karena saya tertib menabung dan mengembalikan pinjaman mengikuti aturan main yang telah ditentukan oleh pengurus”.
Ikut pendidikan CU dulu supaya mengerti bahwa CU itu benar-benar bisa mendukung ekonomi kerakyatan. Ikut CU-lah agar tidak tergantung pada pemerintah dan tertindas. Melalui CU kita yakin akan bebas secara finansial, asal kita bersama mau dan rela menjadi anggota yang baik.
6. Mariaty (Penerima SHU Terbesar CU Katulistiwa Bhakti di Pontianak)
Bergabung dengan CU bisa menolong perekonomian masyarakat menengah kebawah dan menolong perekonomian keluarga. Penerima deviden Rp. 4 juta dari total simpanan Rp. 33 juta tahun 2002 ini mengatakan CU mendekati ideal karena transparasi manajemen, baik keuangan, pelaporan maupun keanggotaannya. CU tidak membeda-bedakan anggotanya (terbuka dan sukarela) dan penuh suasana kekeluargaan. Untuk mendapatkan deviden terbesar itu sangat mudah. Sistemnya meminjam dan disimpan kembali. Untuk menambah simpanan yang ada, ia selalu meminjam dan disimpan kembali.
7. Thoby Mutis (Rektor Universitas Trisakti)
Membaca salah satu buku thoby Mutis : Ragam Koperasi di Manca negara (Edisi 1) keyakinan kita akan bertambah menggebu tentang bagaimana Credit Union dapat menjadi salah satu solu
Shipping and handling / Return policy / Payment details